Bagi kita, senja selalu sempurna, bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisah kita, kamu dan aku. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?
Dahulu, waktu terasa sejuk menyelimuti kita. Segala musim kita lewati tanpa sadar semakin dini sejuk itu semakin menghilang. Amarah dan gelisah seakan menjadi topik setiap hari, tidakkah kau lelah menghadapi gulatan hati tak berujung ini?
Aku sangat mencintaimu, katamu. Mengertikah kau apa artinya kalimat itu? Apakah hatiku yang terlalu peka kalau kita semakin jauh? Aku bukan berpikir negatif kalau segala tentangmu bukanlah lagi kamu yang selalu bersamaku, kala itu. Tapi perubahanmu, menjawab semua kebimbanganku.
Aku mengikuti laju waktu, mencoba mengabaikan perasaan terburukku. Minggu-minggu ini yang aku butuhkan adalah kesabaran, sabar dalam menghadapi perubahanmu yang semakin jelas. Namun, aku sadar, cinta bukan tentang menuntut kemauan sendiri.
Ini adalah cerita kita, alur yang telah lama kita jalani. Bukankah terlalu dini untuk berhenti? Aku teringat tentang rencana masa depan yang kau ceritakan padaku, masa depan kita, kau dan aku. Mengapa kini aku merasa ceritamu itu seperti asap yang kian menghilang seiring padamnya api, mungkinkah api itu adalah cinta kita? Cintamu yang kini mulai padam padaku.
Cinta bagiku absolut. Tidak tebantahkan. Aku mencintaimu, kataku. Dan aku tahu konsekuensinya. Aku tidak mempunyai alasan konkret untuk ini. Bagiku cinta sesungguhnya tidak memiliki alasan. Yang ku tahu, cinta membuatku melihat yang tidak terlihat, dan menutupi semua keburukan yang tampak jelas.
Dan lagi, kau berkata lelah padaku. Mungkinkah aku terlalu mudah puas dengan segala usaha yang ku lakukan? Apakah memang sudah seharusnya semuanya berhenti, seperti permintaanmu.
Selanjutnya, kau memintaku pergi. Sekurang itukah aku? Sepayah itukah aku yang tidak dapat memahamimu lebih lama lagi? Cintaku masih sama, tetap berseri, namun apalah arti tanaman tanpa air? Mencinta tanpa dicintai.
Hari-hariku semakin redup setelah hari itu, hari keputusan yang terasa telak sekali untukku "aku nggak akan mau balik lagi sama kamu". Kalimatnya teramat jelas untukku. Aku menyadari kata-kata cinta tak harus bersama, aku merasa tengah memahami maknanya.
Lalu saat kau datang dan berkata "Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?
No comments:
Post a Comment