When you make decisions, you deal with consequences..
Setelah kurang lebih hampir dua minggu tidak menjalin hubungan khusus dengan siapapun, gue merasa telah menetapkan sebuah prinsip baru. Ketika gue sadar kalau perasaan dan hidup seseorang nggak bisa dipaksain, ketika gue memahami rasanya dilarang melakukan apapun, ketika gue merasa risih diintrogasi, dan ketika gue merasakan lelah yang menghujam karena emosi atas itu semua. Gue pada akhirnya mengerti.
Kamu memberikan segalanya padanya dengan tulus, jadi jangan mengharapkan timbal baliknya. Don't blame it on him. Don't expect anything in return.
Ekspektasi berlebihan ini kadang membuat gue kadang frustasi sendiri, ketika orang yang diharapkan bisa berlaku setimpal dengan yang kita berikan padanya, namun berlaku sebaliknya. Memang nggak ada yang bisa disalahkan disini selain diri gue sendiri yang terlalu berharap. Mungkin gue akan lebih careless atau bersikap jalani aja yang ada sekarang, ketimbang mengharapkan perlakuan seseroang yang mungkin berat bagi orang tersebut melakukannya buat gue.
Sejak awal gue udah mengerti, memberi ya memberi, gue tidak berharap mendapat balasan atas apa yang telah gue lakuin. Karena ya satu, setiap gue melakukan apapun kepada orang yang gue sayang, kebahagiaan orang itu adalah alasan gue melakukan semuanya.
Being able to live with or without someone is just a matter of perspective..
At first after broke up, apapun yang gue kerjain selalu terganggu oleh bayang-bayang orang yang masih gue sayang namun nggak bisa gue miliki, terbayang oleh kenangan indah yang justru bikin gue down dan menangis nggak henti-hentinya. Tetapi lalu gue sadar, kegelisahan ini terus-menerus menghantui gue karena pemikiran gue sendiri. Pemikiran yang masih belum bisa menerima kemauan orang lain yang meskipun bertolak belakang dengan kemauan sendiri.
As women, we need to protect ourselves from getting hurt. But sometimes hurt is inevitable that we just have to deal with it.
Sakit karena putus cinta sudah pasti. Nangis buat perempuan rasanya bukan hal yang awam lagi, tetapi gue berpikir, untuk apa terus-menerus menangisi orang yang sudah bukan siapa-siapa gue lagi, bahkan terburuknya orang itu tidak menganggap dan peduli terhadap gue yang disini memikirkannya sendirian. I don't wanna waste my whole time like this! Its stupid.
Jadi, biasanya gue mencari hiburan sama teman-teman, dengan main game, nonton tv, dengar musik, berbisnis, atau membuat cerita fiksi. Its better than overthink about that one guy who never care about my self, isn't it? Sekarang gue memilih untuk careless, dan belajar tega juga kayaknya, tepatnya sedikit tega, takut dosa kalo terlalu tega sama orang, karenakan karma does exist jadi nggak bisa seenak hati mainin perasaan orang. Meski pernah disakiti, bukan berarti harus menyakiti balik, kan? Apalagi kalau menyakiti hati orang yang tak punya salah apa-apa.
No comments:
Post a Comment